Bila di Jerman ada dua "Penguasa" yang saling "berperang" memenangkan juara Bundesliga, Bayern Munchen vs Borussia Dortmund, Merah vs Kuning.
Maka di Indonesia ada Rivalitas dengan warna yang sama dan (mungkin kebetulan) dalam Satu pulau yang sama pula, Semen Padang vs Sriwijaya FC.
Akan Tetapi, Apabila di Bundesliga, Si Merah, Die Bayern, sangat sering membajak pemain dari pesaing nya (terutama Dortmund). Maka Di Indonesia, hal tersebut dilakukan oleh si Kuning, Sriwijaya FC. Tidak jarang atau bahkan sangat sering Tim "Pembeli Lisensi" ini membajak pemain (yg telah Matang) dari tim lain (terutama Semen Padang).
Buktinya?
Eka Ramdani, Airlangga Sucipto, Yuu Hyun Koo dan yang terbaru: M. Nur Iskandar.
Pemain-pemain tersebut telah sedemikian rupa berkembang di Semen Padang. Terutama Yuu Hyun Koo dan M. Nur Iskandar.
Hyun Koo telah mampu beradaptasi secara penuh dengan persepakbolaan Indonesia. Menjadi seorang "Jenderal" Lapangan tengah yang berkualitas. Bahkan saat di Semen Padang, Ia diangkat menjadi vice-captain.
Tapi apa yang terjadi? Ia dibajak, dan berpindah haluan dari Barat ke Selatan, dari Pantai Padang ke Sungai Musi.
Kehilangan inilah yang menyebabkan SPFC kehilangan sosok "Jenderal" lapangan tengah hingga saat ini. Tak Salah publik Ranah Minang banyak yang menganggap Hyun Koo sebagai seorang "Pengkhianat".
M. Nur Iskandar, sosok penyerang lincah ini merupakan idola publik Ranah Minang semasa membela Semen Padang. Dengan dribbling yang menawan, plus kecepatannya bisa membuat pertahanan tim lawan kocar-kacir.
Kemudian kembali terjadi Pembajakan, disaat Ia dipuja-puji dan diharapkan menjadi penyerang handal di Semen Padang, Ia berpaling ke Laskar Wong Kito. Dari Rendang Padang ke Pempek Palembang.
Sangatlah jelas SFC sering membajak pemain matang dari "Tetangga Sebelah". Entah tujuannya memang untuk memperkuat komposisi pemain yang ada, atau untuk melemahkan "Rival satu Pulau". Atau bisa juga dendam masa lalu saat Laskar Wong Kito tidak mendapat jatah ke Liga Champions Asia, malah Semen Padang yang berlaga di AFC Cup (semasa dualisme kompetisi).
#Respect
Translate
Sabtu, 22 Juli 2017
Untuk Sebuah Nama
Untuk Sebuah Nama....
Kupejam mata ini,
Di kebisuan malam.
O... mimpi, bawalah dia.
Dalam tidurku...
Untuk sebuah nama..
Rindu tak pernah pudar..
O... mimpi, di mana dia.
Dambaan hati..
Hari ini, 22 Juli 2017. Tepat 19 tahun Usia mu...
Titania Hendryani.
Indah, itulah kesan pertama saat melihat wajahmu...
Sampai saat ini, Tak pernah sedikitpun terlupakan momen itu..
Satu senyuman yang rasanya baru kemarin kulihat...
Untuk Sebuah Nama...
Titania, Selamat Ulang Tahun.
Dimanapun Kamu berada, Ku doakan agar Engkau slalu sehat dan bahagia.
Hingga saat ini,
Aku masih memegang Larangan itu..
Tak akan menginjakkan kaki di wilayah tempatmu tinggal...
Walaupun rasanya begitu berat,
Untukmu aku bersedia...
Asalkan Kau Bahagia..
Untuk Sebuah Nama..
Rindu tak pernah pudar.
Itulah rasa yang ku pendam hingga saat ini..
Rindu, Melihatmu...
Aku Tak Ingin Memilikimu, Saat ini.
Semua hanyalah Fana..
Hanya Melihatmu Aku begitu Rindu.
Walaupun hanya sedetik, sepersekian detik pun.
Tak apa.
Hingga Saat ini,
Dimanakah Dambaan Hati?
Adakah Engkau Masih berada di kota ini?
Ataukah telah jauh melangkah meninggalkan seorang Pemujamu yang Hina ini?
Datanglah..
Walupun Hanya di dalam mimpi,
Biarlah..
Biarlah hanya di dalam mimpi,
Kucumbui bayangan dirimu..
Karena...
Kau satu, segalanya bagiku..
Di antara berjuta di sana..
Kau saja, belahan jiwa ini..
Tak ingin yang lain di sisiku..
Titania,
Senyum mu adalah Bintangku.
Wajahmu adalah Malamku.
Kupejam mata ini,
Di kebisuan malam.
O... mimpi, bawalah dia.
Dalam tidurku...
Untuk sebuah nama..
Rindu tak pernah pudar..
O... mimpi, di mana dia.
Dambaan hati..
Hari ini, 22 Juli 2017. Tepat 19 tahun Usia mu...
Titania Hendryani.
Indah, itulah kesan pertama saat melihat wajahmu...
Sampai saat ini, Tak pernah sedikitpun terlupakan momen itu..
Satu senyuman yang rasanya baru kemarin kulihat...
Untuk Sebuah Nama...
Titania, Selamat Ulang Tahun.
Dimanapun Kamu berada, Ku doakan agar Engkau slalu sehat dan bahagia.
Hingga saat ini,
Aku masih memegang Larangan itu..
Tak akan menginjakkan kaki di wilayah tempatmu tinggal...
Walaupun rasanya begitu berat,
Untukmu aku bersedia...
Asalkan Kau Bahagia..
Untuk Sebuah Nama..
Rindu tak pernah pudar.
Itulah rasa yang ku pendam hingga saat ini..
Rindu, Melihatmu...
Aku Tak Ingin Memilikimu, Saat ini.
Semua hanyalah Fana..
Hanya Melihatmu Aku begitu Rindu.
Walaupun hanya sedetik, sepersekian detik pun.
Tak apa.
Hingga Saat ini,
Dimanakah Dambaan Hati?
Adakah Engkau Masih berada di kota ini?
Ataukah telah jauh melangkah meninggalkan seorang Pemujamu yang Hina ini?
Datanglah..
Walupun Hanya di dalam mimpi,
Biarlah..
Biarlah hanya di dalam mimpi,
Kucumbui bayangan dirimu..
Karena...
Kau satu, segalanya bagiku..
Di antara berjuta di sana..
Kau saja, belahan jiwa ini..
Tak ingin yang lain di sisiku..
Titania,
Senyum mu adalah Bintangku.
Wajahmu adalah Malamku.
Selasa, 11 Juli 2017
Hakikat Ujian
Ujian, Sesuatu yang sakral.
Ujian mengukur seberapa jauh kemampuan Kita.
Ujian mengukur seberapa jauh kemampuan Kita.
Mengapa tak dilakukan dengan jujur?? Mengapa harus mencontek??
Semenjak SD, MTsN, MAN, hingga saat ini kuliah di Salah Satu Universitas Islam "terbaru" di Kota Padang, selalu saja ada teman yang mencontek dan memberi contekan.
Kenapa?? Tradisi? Budaya? Bentuk Solidaritas???
Kenapa?? Tradisi? Budaya? Bentuk Solidaritas???
Ironi. Mungkin karena inilah kemajuan tak signifikan terjadi di Bumi Pertiwi. Mungkin karena "bibit Plagiatisme" inilah Indonesia tak memiliki Inovasi yang aplikatif massal. Mencontek! Men-jiplak hasil pikiran orang lain!
Apa yang Kita dapatkan dengan mencontek??
Memang dengan berbuat "nakal" tersebut setidaknya saat ujian bisa mendapat nilai yang baik. Tapi kepuasannya? Rasa bangga atas nilai tersebut? Cuih.... hanyalah milik orang lain. Nilai dari orang lain.
Memang dengan berbuat "nakal" tersebut setidaknya saat ujian bisa mendapat nilai yang baik. Tapi kepuasannya? Rasa bangga atas nilai tersebut? Cuih.... hanyalah milik orang lain. Nilai dari orang lain.
Mungkin dalam pikiran Kita, ujian hanyalah untuk mendapatkan nilai dan lulus.
Tapi, cobalah berpikir. Secara lebih jauh, ujian itu sebenarnya untuk memberitahu kita bahwa "Seharusnya" Menguasai KONSEP yang diujiankan. Ingat: MENGUASAI. Bukan Menghafal. Apabila konsep telah dikuasai tak perlu lagi menghafal. Cukup dengan redaksi yang komunikatif, maka Intisari jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan tersebut akan dijawab dengan Tuntas.
Tapi, cobalah berpikir. Secara lebih jauh, ujian itu sebenarnya untuk memberitahu kita bahwa "Seharusnya" Menguasai KONSEP yang diujiankan. Ingat: MENGUASAI. Bukan Menghafal. Apabila konsep telah dikuasai tak perlu lagi menghafal. Cukup dengan redaksi yang komunikatif, maka Intisari jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan tersebut akan dijawab dengan Tuntas.
Jadi, yang perlu kita renungkan ialah: Ujian ini sebenarnya untuk apa? Untuk mencari nilai kah? Atau membuat Kita menguasai Konsep?
Semoga Kita Selalu Berada dalam Jalan Yang Benar.
Semoga Kita Segera Bertaubat dan Mulai Melihat Kemampuan Diri Sendiri dengan lebih Bangga.
#Respect
Semoga Kita Segera Bertaubat dan Mulai Melihat Kemampuan Diri Sendiri dengan lebih Bangga.
#Respect
Rabu, 15 Juni 2016
Mahasiswi Terserang Sesak Nafas saat Ujian Akhir Semester
Seorang mahasiswi di salah satu PTN "Favorit" di Lubuk Lintah diberitakan mengalami sesak nafas dan kejang-kejang saat Ujian Akhir Semester. Mahasiswi yang diketahui berinisial I (20) mengalami "sakaratul maut" saat Ujian Akhir Semester mata kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis. Beliau dikenal di mata teman-temannya sebagai mahasiswi yang pintar dan rajin beribadah.
Menurut keterangan saksi yang tak ingin disebutkan namanya, Beliau mengalami sesak nafas sesaat setelah masuk kelas. sebelumnya Beliau meminta izin ke dosen pengawas untuk ke luar kelas. Kemudian setelah masuk kembali dan mencoba menjawab soal-soal ujian akhir semester, tiba-tiba Beliau terkulay jatuah dan mengalami kejang-kejang. Hal ini membuat penghuni kelas "panik" dan memanfaatkan keadaan.
Hingga berita ini ditulis, Sang Mahasiswi diketahui telah sadar dan bisa beraktivitas dengan lincah seperti sedia kala. Asumsi yang beredar mengatakan bahwa musibah yang dialami mahasiswi tersebut karena soal-soal ujian mata kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis yang dikerjakannya tergolong sangat berat dan mengagumkan.
NB: Cerita ini bukan hanya fiktif belaka. Sebagian cerita memang ada benarnya. Namun, jangan terlalu serius menanggapi cerita ini...
Menurut keterangan saksi yang tak ingin disebutkan namanya, Beliau mengalami sesak nafas sesaat setelah masuk kelas. sebelumnya Beliau meminta izin ke dosen pengawas untuk ke luar kelas. Kemudian setelah masuk kembali dan mencoba menjawab soal-soal ujian akhir semester, tiba-tiba Beliau terkulay jatuah dan mengalami kejang-kejang. Hal ini membuat penghuni kelas "panik" dan memanfaatkan keadaan.
Hingga berita ini ditulis, Sang Mahasiswi diketahui telah sadar dan bisa beraktivitas dengan lincah seperti sedia kala. Asumsi yang beredar mengatakan bahwa musibah yang dialami mahasiswi tersebut karena soal-soal ujian mata kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis yang dikerjakannya tergolong sangat berat dan mengagumkan.
NB: Cerita ini bukan hanya fiktif belaka. Sebagian cerita memang ada benarnya. Namun, jangan terlalu serius menanggapi cerita ini...
Selasa, 26 April 2016
Ironi Mengurus SIM
Apabila Anda memiliki kepentingan untuk mengurus SIM di Polresta daerah Anda tinggal, terdapat suatu pemahaman yang harus diluruskan. Pemahaman itu adalah perbedaan definisi antara Calo dengan "Polisi Penolong".
Pada saat mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi), baik pembuatan baru, perpanjangan maupun mengurus kehilangan. terdapat perbedaan makna antara Calo dengan "Polisi Penolong". Calo adalah Orang yang menyediakan "jasa" pengurusan SIM tetapi Ia berada di luar lingkaran Institusi tersebut. sedangkan "Polisi Penolong" adalah orang yang menawarkan Jasa Pengurusan SIM dan Ia berada dalam lingkaran Institusi tersebut.
Suatu hal yang menarik bagi Kita bukanlah Calo vs "Polisi Penolong". Namun, lebih memfokuskan pada Peran Keterlibatan "Polisi Penolong" dalam pengurusan SIM. seperti yg kita ketahui pengurusan SIM memiliki berbagai tahapan. terkadang tahapan tersebut memakan waktu yg lama, bisa berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu, di situlah peran "Polisi Penolong". mereka menyebut hanya untuk "menolong" memperpendek dan mempermudah pengurusan tsb.
Setali tiga uang dengan itu, org yg mengurus SIM juga merasa "terbantu" dengan hal tersebut. jadilah bertemu api dengan panggang. tak ada lagi rasa bersalah telah men- "zalimi" prosedur yg sebenarnya.
Harga yg dipatok oleh Si Penyedia Jasa juga beragam. tergantung bagaimana kemampuan negosiasi Kita dengan Mereka. Umumnya harga yg dipatok adalah diatas Rp. 120.000,-
sesungguhnya,
siapa pihak yang salah disini? apakah Kita? atau Mereka?
Apabila ditelaah lebih dalam, tak ada pihak yg bersalah. satu sisi Orang yg mengurus SIM ingin pengurusannya cepat. di sisi lain "Polisi Penolong" juga ingin memiliki Umega (Usaha Menambah Gaji). Mereka tidak menganggap itu sebagai tindakan pidana. melainkan itu adalah salah satu cara melayani dan mengayomi masyarakat sebagaimana motto mereka.
Jadi, satu hal yg perlu Kita luruskan yaitu apabila Kita mengurus SIM dan bertemu dengan kepentingan "Polisi Penolong", Kita tidak perlu menganggap hal itu sbg dosa dan hal yg tak baik. kita memiliki pilihan, apakah memanfaatkan jasa nya atau boleh mengikuti tahapan konvensional, tahapan yg seharusnya. apabila memanfaatkan jasa tersebut, Kita menjadi lebih cepat dlm pengurusan SIM. tetapi apabila menggunakan cara Konvensional, akan lebih lama. Namun, terdapat kepuasan bathin bahwa Kita memang org yg pantas mendapatkan SIM tersebut karena telah melalui berbagai tahapan dan serangkaian tes yg ada.
So, silahkan pilih yang mana...
Pada saat mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi), baik pembuatan baru, perpanjangan maupun mengurus kehilangan. terdapat perbedaan makna antara Calo dengan "Polisi Penolong". Calo adalah Orang yang menyediakan "jasa" pengurusan SIM tetapi Ia berada di luar lingkaran Institusi tersebut. sedangkan "Polisi Penolong" adalah orang yang menawarkan Jasa Pengurusan SIM dan Ia berada dalam lingkaran Institusi tersebut.
Suatu hal yang menarik bagi Kita bukanlah Calo vs "Polisi Penolong". Namun, lebih memfokuskan pada Peran Keterlibatan "Polisi Penolong" dalam pengurusan SIM. seperti yg kita ketahui pengurusan SIM memiliki berbagai tahapan. terkadang tahapan tersebut memakan waktu yg lama, bisa berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu, di situlah peran "Polisi Penolong". mereka menyebut hanya untuk "menolong" memperpendek dan mempermudah pengurusan tsb.
Setali tiga uang dengan itu, org yg mengurus SIM juga merasa "terbantu" dengan hal tersebut. jadilah bertemu api dengan panggang. tak ada lagi rasa bersalah telah men- "zalimi" prosedur yg sebenarnya.
Harga yg dipatok oleh Si Penyedia Jasa juga beragam. tergantung bagaimana kemampuan negosiasi Kita dengan Mereka. Umumnya harga yg dipatok adalah diatas Rp. 120.000,-
sesungguhnya,
siapa pihak yang salah disini? apakah Kita? atau Mereka?
Apabila ditelaah lebih dalam, tak ada pihak yg bersalah. satu sisi Orang yg mengurus SIM ingin pengurusannya cepat. di sisi lain "Polisi Penolong" juga ingin memiliki Umega (Usaha Menambah Gaji). Mereka tidak menganggap itu sebagai tindakan pidana. melainkan itu adalah salah satu cara melayani dan mengayomi masyarakat sebagaimana motto mereka.
Jadi, satu hal yg perlu Kita luruskan yaitu apabila Kita mengurus SIM dan bertemu dengan kepentingan "Polisi Penolong", Kita tidak perlu menganggap hal itu sbg dosa dan hal yg tak baik. kita memiliki pilihan, apakah memanfaatkan jasa nya atau boleh mengikuti tahapan konvensional, tahapan yg seharusnya. apabila memanfaatkan jasa tersebut, Kita menjadi lebih cepat dlm pengurusan SIM. tetapi apabila menggunakan cara Konvensional, akan lebih lama. Namun, terdapat kepuasan bathin bahwa Kita memang org yg pantas mendapatkan SIM tersebut karena telah melalui berbagai tahapan dan serangkaian tes yg ada.
So, silahkan pilih yang mana...
Selasa, 12 April 2016
Jalani Hidup Seperti Air Mengalir
prinsip itu hanyalah bagi org yg tidak memiliki perencanaan.
Alhamdulillah kalau air itu mengalir ke sawah. bisa utk membuat padi tumbuh. bahkan apabila air tsb mengalir ke ladang, bisa menumbuhkan berbagai tumbuhan yang sehat.
Tapi jika air itu mengalir ke selokan dan menjadi sarang nyamuk DBD??
sungguh sangat buruk!!
apabila di ibaratkan ke manusia, Ia menjadi sampah masyarakat. menjadi cemas masyarakat jika Ia ada.
oleh karena itu, persiapkan selalu apa yang akan dilakukan dalam hidup ini, khusus nya dalam hal-hal yang esensial dan penting.
(intisari khutbah Jumat beberapa bulan yang lalu)
Alhamdulillah kalau air itu mengalir ke sawah. bisa utk membuat padi tumbuh. bahkan apabila air tsb mengalir ke ladang, bisa menumbuhkan berbagai tumbuhan yang sehat.
Tapi jika air itu mengalir ke selokan dan menjadi sarang nyamuk DBD??
sungguh sangat buruk!!
apabila di ibaratkan ke manusia, Ia menjadi sampah masyarakat. menjadi cemas masyarakat jika Ia ada.
oleh karena itu, persiapkan selalu apa yang akan dilakukan dalam hidup ini, khusus nya dalam hal-hal yang esensial dan penting.
(intisari khutbah Jumat beberapa bulan yang lalu)
Senin, 25 Januari 2016
Kabau Sirah ditikam Naga Mekes
hai. hai. hai.
slamat siang Sobat Kere semua yang lagi galau dan berduka atas gugurnya Semen Padang FC di Final Piala Jenderal Sudirman kemarin. udah pada move on belum nih???
pasti belum kan? pasti masih merasa kecewa dan sedih? sama Mas Bro, Gue juga! masa' udah main cantik dan keren githu bisa kalah ama si Mitra Kukar.
dari sudut pandang gue nih, ada beberapa faktor yg menyebabkan "tewas"-nya SPFC. yaitu:
1. Wasit
Gue pikir memang gak ada keputusan kontroversial dari wasit Thoriq Alkatiri sebagai wasit laga final tersebut. tapi Gue menangkap sepertinya Si Thoriq ini nggak "berjodoh" dengan SPFC.
Hampir setiap memimpin laga yg melibatkan SPFC, Kemenangan hampir selalu untuk pihak lawan. Selain di laga final kemarin, saat di semifinal leg 1 kemarin melawan PBFC kemenangan "diberikan" untuk pihak tuan rumah. Jadi, sepertinya Si Thoriq ini adalah "batu penghalang" buat SPFC meraih kemenangan, selain lawan yang dihadapi itu sendiri.
2. Kartu merah Yu Hyun Koo
Gue melihat kartu merah buat Dia merupakan hal yang konyol, terutama kartu kuning kedua. Masa pemain senior sekaligus pemain asing yang seharusnya memberikan teladan malah melakukan tindakan gegabah.
Seharusnya (menurut Gue) Dia gak perlu melakukan tekel ke Rodrigo, karena udah jelas dia telat dalam melakukan nya. jadi, mungkin kalau Dia gak kena kartu merah, pasti lini tengah SPFC masih stabil dan bisa memenangkan pertandingan.
3. Cedera Novan Satya dan masuk nya Ohorella
sebetulnya pos bek kiri SPFC adalah milik Satrio Syam. tapi karena Dia kena Akumulasi, maka Novan diamanahkan utk menjaga pos tersebut. Namun, penampilan nya tidak terlalu mengesankan buat Gue. bencana terjadi saat Dia mengalami cedera lutut di babak kedua. Posisi nya digantikan oleh Ricky Akbar Ohorella.
Gue pikir ini adalah pergantian "darurat" dan menjadi cikal bakal "terbunuh"-nya Kabau Sirah. Ohorella yang baru sembuh dari cedera jelas tidak terlalu siap masuk dalam pertandingan.
Maka disitulah Mitra Kukar mengeksploitasi-nya. gol penyama kedudukan via tendangan bebas Michel Orah terjadi akibat pelanggaran Ohorella terhadap salah satu pemain MK. serta gol kedua juga akibat terlambatnya Dia menutup pergerakan Yogi Rahardian, sehingga dengan mudah "berdansa" dan menceploskan bola ke gawang SPFC. Saya pikir faktor inilah yang paling menonjol yang menyebabkan kalahnya pasukan Bukit Indarung dari Ksatria Naga Mekes.
Kesimpulannya, bagi Gue kalah menang memang biasa. tapi kalau kalah di laga final merupakan hal yang sangat luar biasa dan nyesek banget Bro!
Tapi, yang paling penting dan harus di ingat bahwa kita tidak perlu memperkeruh apa dan siapa penyebab kekalahan, cukup Kita mengetahui nya sebagai suatu pelajaran dan pengalaman.
Selamat buat Mitra Kukar, istimewa nya buat Pak Jafri Sastra (kepuasan bathin tersendiri tentu nya).
dan tentunya, FORZA SEMEN PADANG!!! Tetap BUEK BANGGA RANAH MINANG!!!
slamat siang Sobat Kere semua yang lagi galau dan berduka atas gugurnya Semen Padang FC di Final Piala Jenderal Sudirman kemarin. udah pada move on belum nih???
pasti belum kan? pasti masih merasa kecewa dan sedih? sama Mas Bro, Gue juga! masa' udah main cantik dan keren githu bisa kalah ama si Mitra Kukar.
dari sudut pandang gue nih, ada beberapa faktor yg menyebabkan "tewas"-nya SPFC. yaitu:
1. Wasit
Gue pikir memang gak ada keputusan kontroversial dari wasit Thoriq Alkatiri sebagai wasit laga final tersebut. tapi Gue menangkap sepertinya Si Thoriq ini nggak "berjodoh" dengan SPFC.
Hampir setiap memimpin laga yg melibatkan SPFC, Kemenangan hampir selalu untuk pihak lawan. Selain di laga final kemarin, saat di semifinal leg 1 kemarin melawan PBFC kemenangan "diberikan" untuk pihak tuan rumah. Jadi, sepertinya Si Thoriq ini adalah "batu penghalang" buat SPFC meraih kemenangan, selain lawan yang dihadapi itu sendiri.
2. Kartu merah Yu Hyun Koo
Gue melihat kartu merah buat Dia merupakan hal yang konyol, terutama kartu kuning kedua. Masa pemain senior sekaligus pemain asing yang seharusnya memberikan teladan malah melakukan tindakan gegabah.
Seharusnya (menurut Gue) Dia gak perlu melakukan tekel ke Rodrigo, karena udah jelas dia telat dalam melakukan nya. jadi, mungkin kalau Dia gak kena kartu merah, pasti lini tengah SPFC masih stabil dan bisa memenangkan pertandingan.
3. Cedera Novan Satya dan masuk nya Ohorella
sebetulnya pos bek kiri SPFC adalah milik Satrio Syam. tapi karena Dia kena Akumulasi, maka Novan diamanahkan utk menjaga pos tersebut. Namun, penampilan nya tidak terlalu mengesankan buat Gue. bencana terjadi saat Dia mengalami cedera lutut di babak kedua. Posisi nya digantikan oleh Ricky Akbar Ohorella.
Gue pikir ini adalah pergantian "darurat" dan menjadi cikal bakal "terbunuh"-nya Kabau Sirah. Ohorella yang baru sembuh dari cedera jelas tidak terlalu siap masuk dalam pertandingan.
Maka disitulah Mitra Kukar mengeksploitasi-nya. gol penyama kedudukan via tendangan bebas Michel Orah terjadi akibat pelanggaran Ohorella terhadap salah satu pemain MK. serta gol kedua juga akibat terlambatnya Dia menutup pergerakan Yogi Rahardian, sehingga dengan mudah "berdansa" dan menceploskan bola ke gawang SPFC. Saya pikir faktor inilah yang paling menonjol yang menyebabkan kalahnya pasukan Bukit Indarung dari Ksatria Naga Mekes.
Kesimpulannya, bagi Gue kalah menang memang biasa. tapi kalau kalah di laga final merupakan hal yang sangat luar biasa dan nyesek banget Bro!
Tapi, yang paling penting dan harus di ingat bahwa kita tidak perlu memperkeruh apa dan siapa penyebab kekalahan, cukup Kita mengetahui nya sebagai suatu pelajaran dan pengalaman.
Selamat buat Mitra Kukar, istimewa nya buat Pak Jafri Sastra (kepuasan bathin tersendiri tentu nya).
dan tentunya, FORZA SEMEN PADANG!!! Tetap BUEK BANGGA RANAH MINANG!!!
Langganan:
Postingan (Atom)